Tentang menjaga lisan dan adab
Ada sebuah kisah yang begitu menarik, sebuah kisah yang bisa menjadi reminder kita bahwa perlunya kita menjaga lisan dan adab sebaik mungkin, karena bukan hanya berguna dan bermanfaat untuk diri kita sendiri melainkan juga buat orang lain.
Seorang laki-laki pergi sholat Jum'at ke masjid. Dia lupa mematikan (silent mode) hp nya, dan secara tiba-tiba berdering waktu sedang khutbah. Imam menyindirnya, dan beberapa jamaah menegurnya setelah sholat.
Karena dia sudah mengganggu kekhusukan dan ketenangan mereka ketika didalam masjid, dia merasa bersalah. Sepanjang perjalanan pulang, dia melihat orang-orang memandanginya dan dia pun merasa sangat malu saat itu. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi melangkahkan kakinya ke masjid itu.
Lalu,
Malam itu, dia pergi ke Bar. Merasa gugup dan gemetar karena baru pertama kali, dia tidak sengaja menumpahkan minumannya di meja. Pelayan bar dengan sigap meminta maaf dan memberikan lap bersih untuk membersihkan pakaiannya. Petugas kebersihan mengepel lantai dan manager bar itu memberikan minuman pengganti.
Manager bar itu juga memberikannya pelukan serta berkata,
"Jangan khawatir, setiap orang pernah berbuat salah."
Sejak saat itu, dia tidak pernah berhenti datang ke bar itu.
Renungan yang bisa kita dipetik
Terkadang lisan dan sikap kita bisa menghalangi seseorang dari jalan menuju surga dan menghantarkannya ke neraka. Kita memagari bahkan mengekslusifkan diri kita seakan kita adalah orang2 suci.
Bagaimana kita bicara tentang memenangkan jiwa, bila fokus kita adalah kesalahan-kesalahan orang lain saja? Mari asah kembali mata hati kita, bukan soal siapa benar ataupun siapa salah, tapi tetap memberikan respon, masukan, nasihat yang sebaik mungkin.

1 Komentar
mantap postingannya
BalasHapus