Lukisan [Part 2: Belum Selesai]

ilustrasi lukisan febri di air terjun

Febri membuka jendela kamarnya perlahan-lahan. Tampak nya Febri kepikiran dengan perlakuan orang tua nya kepada Tomi. Semalam, papa-mamanya mengusir Tomi karena dianggap sudah mengajaknya bermain melewati batas. Sewaktu pulang semalam, Terlihat Febri yang amburadul. Rambutnya awut-awutan, pakaiannya basah dan kotor oleh pasir laut. Terutama papanya yang paling sewot memarahi Tomi. Apa lagi ketika tahu bahwa Febri mengenal Tomi baru beberapa saat saja.

Larangan untuk bertemu dengan Tomi, kini malah tidak digubris Febri. Kalau dahulu Febri selalu menurut saja apa yang tidak diperbolehkan papa-mamanya, kini setelah berulang tahun yang ke 22 segalanya terasa lain. Febri merasa tidak bisa menerima begitu saja setiap larangan.

Febri mengendap-endap di halaman cottage. Begitu di rasa aman, dia berlari ke pantai. Hari masih pagi benar. Pasir pantai terasa dingin ketika kaki-kaki putih Febri menginjaknya, tetapi laut sudah dihiasi perahu-perahu nelayan. Kehidupan pantai bergulir seperti biasa.

Febri sendiri tidak bisa memahami dirinya, mengapa bertindak nekat. Ini hal yang baru di alaminya. Ini dorongan dari alam bawah sadarnya. Sepertinya Tomi memang sudah memesona dirinya. Ada daya tarik yang bagai magnet dalam diri Tomi. Dia merasa tersihir dan larangan kedua orang tuanya bukan merupakan penghalang untuk bertemu dengan Tomi. 

Febri tidak ingin memikirkan akibatnya, apabila nanti papa-mamanya tahu apa yang di lakukannya, ia mendatangi pemuda yang baru sehari di kenalnya. Dia tak peduli. Bukankah papa-mamanya berjanji akan memberinya kebebasan yang bertanggung jawab di usianya yg ke 22?

Gadis cantik itu berlari-lari dengan gembira menyusuri pantai,

Bagai seekor kijang di taman para dewa. Setiap pemburu pasti tidak akan tega melepaskan anak panahnya. Kijang itu lebih bagus dipelihara daripada dibidik.

Ombak berdebur menjilati kakinya. Dia berlari-lari berkejaran dengan ombak, menikmati kebebasan dan kegembiraannya yang tidak pernah dia rasakan selama ini. Kehidupan yang selalu di jalaninya adalah kekhawatiran papa-mamanya sebagai putri semata wayang. Tidak boleh begini-begitu. Sampai-sampai, liburan seperti ini pun harus disertai mereka. Akan tetapi, selepas 22 tahun ini, Febri akan meminta hak-haknya sebagai gadis dewasa.

Febri mendekati gubuk itu. Jendelanya masih dibiarkan terbuka seperti kemarin. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Dia mendekati tangga. Akan tetapi, baru saja dia hendak naik, kepiting sebesar kepala tangan jatuh di kakinya. Febri terlonjak dan menjerit. Dia tahu siapa yang iseng, tetapi binatang itu tetap saja membuatnya takut. Tomi muncul dari semak-semak sambil tertawa-tawa. Febri merajuk.

Ia langsung memukuli Tomi

“Selamat pagi, Anak Mami!” Febri cemberut.

“Siap untuk dilukis, ya?” Tomi langsung menariknya dan Febri tidak menolak.

Tomi bergegas naik ke gubuknya. Ia mengambil peralatan lukis kemudian di masukkannya ke atas punggung. Dia melompat turun ke pasir.

“Kuat kan jalan kaki?” kata Tomi

“Jauh gak” kata Febri

“Di balik gunung yang itu.” Tomi membawa Febri menyebrangi jalan.

Febri sejenak tertegun, muncul perasaan was-was karena pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi, tapi entah kenapa Febri tidak ragu untuk Tomi. Mereka masuk ke perkampungan nelayan.

Rumah-rumah di perkampungan itu terbuat dari setengah bata dan setengah papan. Atapnya ada yang masih dari rumbia, daun kelapa, dan ada juga yang sudah bergenteng. Beberapa kali Tomi bertegur sapa dengan penduduk, yang hendak ke pasar atau melaut. Malah ada satu dua yang terlibat percakapan penting.

“Kamu beken juga di sini ya?” seloroh Febri.

“Aku suka bepergian. Moto hidupku, kawan adalah rezeki.”

“Aku kawanmu yang keberapa?” Tanya Febri.

“Hmm, gak pernah aku hitung,” jawab Tomi

“Sebaliknya, kawanku sedikit,” kata Febri.

“Itu karena kamu membatasinya.” lanjut Tomi

“Bukan aku!” sahut Febri

“Orang tuamu?” Tanya Tomi

Febri tidak membantah.

“Kalau aku jadi orang tuamu, pasti khawatir juga.” kata Tomi.

“Loh kenapa jadi ikutan khawatir?” Tanya Febri polos.

“Soalnya kamu cantik. Pasti semua lelaki akan berebut ingin menjadi pacar kamu.” kata Tomi.

“Enak aja! Memangnya aku piala, direbutin!” sahut Febri

“Tau sendirikan lelaki zaman sekarang?” kata Tomi

“Emang kenapa gitu lelaki sekarang?” Tanya Febri tidak mengerti.

Tomi memandangnya heran. “Kamu betul belum tahu apa, siapa, dan bagaimana lelaki?” Tanya Tomi

Febri menggeleng dengan jujur. “Pacar aja belum punya....” ujarnya.

“Oh,ya?” sahut Tomi

“Iya! Sumpah!” jawab Febri.

“Wah, aku gak percaya sih.” Tomi menggoda.

“Papaku galak! Setiap ada lelaki yang datang ke rumah pasti dipelototi, mereka menjadi takut dan tidak mau datang lagi.” Febri menjelaskan.

“Ah, masa sih? Segalak apa papamu?” Tanya Tomi tidak percaya.

“Coba saja sama kamu,” kata Febri

“Beneran?” goda Tomi

“Kalau kamu berani,” kata Febri.

“Eh, nantang?” kata Tomi dan Febri tertawa manja.

Tomi membawa Febri menyusuri jalan kecil berbatu-batu.

Beberapa kali Febri mengaduh karena kakinya menginjak kerikil. Febri memang tidak terbiasa jalan kaki tanpa memakai sandal. Tomi hanya tertawa kecil. Tiba-tiba....

“Kamu dengar suara itu?” Tomi berhenti

Febri memusatkan perhatian.

“Ayo, cepet lari! Di balik tebing itu!” Tomi berlari meninggalkannya.

Febri menjerit kecil, mengejar Tomi. Begitu tebing di lewati, dia terperangah. Suara gemuruh itu semakin besar. Kini di depannya terekam air terjun ketinggian 20 meteran. Di bawahnya membentuk danau kecil. Surga ini semakin besar. Kini di depannya membentuk danau kecil. Surga ini tersembunyi di balik punggung bukit. Ada cekukan, di mana pohon-pohon besar merangkulnya.

Febri bagai kanak-kanak yang baru mendapat hadiah boneka.

Ia berlari dan menenggelamkan kaki nya sampai sebetis. Tomi melempar tas punggung dan langsung membuka kausnya lalu terjun ke danau. Tomi menyembur-nyemburkan air ke tubuh Febri.

“Mandi, yuk! Segar lho, airnya.” ajak Tomi

Febri berjalan ke danau. Setelah airnya sampai ke lututnya ia berhenti kemudian meraup air yang bening ke wajahnya. Katanya dengan gembira, “Keren banget!” Febri balas menyemburkan air.

“Seneng banget rasanya buat tau ada tempat seindah ini”

Tomi tersenyum puas. Beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Febri. Ia menggumam, Betapa cantik, betapa sempurna. Ingin ia menggenggamnya, tetapi apa bisa? Ah, antara dirinya dan Febri terbentang jarak yang jauh. Dunia mereka sungguh berbeda.

“Hei, kok melamun?” Febri menyemburkan lagi air danau ke wajah Tomi.

“Pasti ingat sama pacar, yaaa?”

Tomi menggeleng. “ Aku lagi menikmati kencantikan di depanku,” katanya kagum.

“Alam di sini memang cantik,” Febri berdebar-debar hatinya. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Alam di sini memang cantik, tapi alam disini juga tau kalau ada yang jauh lebih cantik.” kata Tomi.

Febri tersipu malu. Wajahnya merah dadu. Tomi merasa tidak enak sudah membuat Febri malu dan salah tingkah. Untuk mengembalikan suasana. Tomi menyiram Febri dengan air danau. Mereka saling mencipratkan air. Tubuh mereka basah. Mereka duduk berjemur di tempat yang hangat tertimpa cahaya matahari pagi. Tomi membuka tas punggungnya. Ia mengeluarkan nesting dan parafin.

“Mau bikin apa?” Febri memperhatikannya dengan heran

“Sarapan!” Tomi menyalakan parafin dengan korek api.

“Apa?” Febri merasa kaget, “Buat siapa?”

“Buat Aku sama kamu. Buat siapa lagi?” Kata Tomi sambil menyerahkan dua bungkus mi kepada Febri. “Bukain, ya. Terus, setelah air di nesting itu mendidih, masukin mie itu. Seterusnya, kamu pasti ngerti lah ya?” lalu Tomi menyiapkan alat-alat lukisnya.

Febri tampak gemetar ketika memegang dua bungkus mi itu. Di rumah dia tidak pernah menginjak dapur, apa lagi memasak. Mama melarangnya dengan alasan, nanti kulit tangannya rusak. Kini, Febri merasa seperti sedang di adili oleh Tomi. Rasa malu memoles wajahnya.

“Kamu gak bisa masak mie?” Tomi menatapnya. Febri menggeleng pelan. Ia menunduk.

Tomi dengan bijaksana menghampiri. “gak bisa memasak gak berarti kamu bukan wanita, lho. Banyak kok wanita yang gak bisa masak,” Tomi menghibur. Febri Tersipu-sipu.

Tomi mengajari Febri bagaimana cara memasak mie. “ Jadi anak semata wayang pasti serba salah ya?“ Tomi mengaduk mi.

Ia membaginya menjadi dua bagian.

“Buatku jadi anak semata wayang adalah malapetaka” kata Febri

“Gak juga.” Tomi menyodorkan mi buatannya. “Cobalah” senyumnya.

Febri dengan segan menerima mi di nesting yang kotor itu. Pelan-pelan ia mencicipinya. Mungkin karena sudah berjalan jauh, perutnya menagih diisi lain dari biasanya. Mie rebus itu pun tandas juga. Menyadari itu, Febri Cuma tersipu malu.

Matahari pagi merangkak naik. Tomi menyuruh Febri untuk membasahi rambut. “duduk di batu itu ya!” suruhnya.

“Kamu punya saudara?” Tanya Febri

“Adikku perempuan. sepertinya seumuran sama kamu” Jawab Tomi

“Orang tuamu kerja apa?” Febri bertanya lagi.

“kedua orang tuaku udah gak ada” kata Tomi. Febri menatapnya dengan sedih.

“Aku hidup dari lukisan. Di pantai ini pun banyak nelayan yang ingin dilukis. Kadang kala ada juga turis bule yang ingin dilukis. Lumayan, buat menyambung hidup di sini juga biaya kuliah adikku”

Tomi menjelaskan.

“Kerjamu cuma melukis?” Tanya Febri ingin tahu.

“Di Jakarta aku menyambi di advertising, atau melukis potret sana-sini. Sekarang, aku sedang cuti setahun. Jenuh juga tinggal di Jakarta sekarang . entah akan jadi apa Jakarta itu” kata Tomi

Febri merasa tersentuh sekaligus kagum mendengar cerita Tomi.

Betapa keras hidupnya, penuh perjuangan, bervariasi, dan ada tantangan. Jauh berbeda dengan dirinya yang sejak dilahirkan segalanya sudah tersedia. Tomi menyuruh Febri membetulkan posisi duduknya. Ketika lengan mereka saling bersentuhan, Febri merasa ada sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya.

Tomi kembali asyik menekuni tarikan garis-garisnya. Febri berusaha untuk menjadi patung hidup yang baik. Di belakangnya air terjun bergelora. Sekitar satu jam sketsa lukisan Febri selesai. Febri berdiri di belakang Tomi , melihat sketsa dirinya di atas kanvas.

“Nanti aku teruskan di gubuk” Tomi tersenyum puas.

“Bisa aku bawa sore ini?” Tanya Febri.

“Sore ini kamu pulang? Tanya Tomi. Febri mengangguk.

“Secepat itu?” Tomi tidak percaya dengan pendengarannya.

“Besok, aku harus kuliah” kata Febri.

Tomi mengangguk sambil membereskan peralatan lukisnya. “Aku pikir sore ini pasti beres, tetapi kalau belum, kamu bisa kasih alamat rumahmu di Jakarta. Itupun kalau kamu gak keberatan.”

Febri mencubit bahu Tomi. “Awas, Datang ke rumah ya!” jangan cuma janji! Seniman biasanya begitu!” kata Febri

“Kamu gak takut papa-mamamu kalau aku main ke rumahmu?” Seloroh Tomi.

Febri menggeleng. “Aku sudah 22 tahun sekarang!” tegasnya.

Akan tetapi. Dalam sekejap Febri berubah jadi gelisah.

“Kepikiran, papa-mama ya?” Tomi membereskan peralatan masaknya.

“Mereka pasti kelabakan, begitu melihat kamarku kosong sejak pagi tadi”

“Buset! Kamu kabur?” Tomi terbelalak lucu. Febri mengangguk malu.

“Lewat jendela ya?” Tanya Tomi. Febri mengangguk.

“Waduh, gawat juga...” seru Tomi

“Habisnya mereka ngelarang aku untuk ketemu kamu, Tom” kata Febri.

“Harusnya kamu bahagia punya orang tua yang perhatiin kamu. Siapa tahu aku ini emang brengsek? Kamu aku culik lalu aku minta tebusan sekian ratus juta,” kata Tomi

“Culik saja. Aku mau kok!” Tomi tertawa.

“Mereka terlalu berlebihan dalam semua hal” Febri mengeluh.

“Akibatnya, sama kepiting aja aku takut!”

Tomi tertawa kecil. Ia mengemasi tas punggungnya kemudian mengajak Febri pulang.

“Aku masih mau bermalas-malasan di sini” ogah-ogahan Febri bangkit.

“Nanti aku disangka menculik kamu!” Tomi menariknya.

“Katanya mau menculik aku!” kata Febri

Tomi tertawa lagi

Mereka meninggalkan danau

“Besok kegiatan rutin lagi, dikungkung oleh segala macam aturan.

Bangun mesti jam segini, kuliah lagi, tugas lagi, diantar-jemput supir lagi. Huh, Bosan!” Febri menggerutu.

Tomi merangkul pundak Febri,

“Ya itu namanya hidup, Tuhan udah kasih porsi nya masing-masing buat kita. Kata ibuku, Tuhan pasti gak akan kasih beban di luar kemampuan hambanya kok.”

“Aku gak ngerti aku bakal bisa lewatin semua ini apa gak.” kata Febri.

“Pasti bisa.” tutur Tomi.

Febri menatapnya kemudia ia berkata “Betul sore ini lukisannya selesai ya?”

“Nanti sore aku antar ke cottage” jawab Tomi

“Jangan, Jangan Tom! Papaku bisa-bisa kelojotan nanti ketemu kamu lagi” cegah Febri ketakutan.

“Lalu lukisannya aku anterin kemana?” Tanya Tomi

“Titipkan di resepsionis,ya!” jawab Febri

Tomi mengangguk dengan malas

“Kita bakal ketemu lagi gak ya, Tom?” harap Febri

“Harus dong.” jawab Tomi

Tanpa sadar, Febri bergelayut di bahu Tomi. Akan tetapi Tomi langsung mendorongnya ketika ada ribut-ribut di jalan raya

“Siapa mereka, ya?” Tomi meneliti

“Wah jangan-jangan...” Tomi merasa cemas.

Orang-orang di jalan raya itu menunjuk ke arah Tomi dan Febri.

Beberapa orang berlari menghampiri mereka.

“Orang tuaku,” wajah Febri pucat

Tomi berusaha menguasai keadaan. Seorang lelaki yang menjadi sopir keluarga Febri, menghampirinya. Tanpa basa-basi ia langsung mencengkram leher Tomi kemudia memukulnya. Untung Tomi sempat berkelit. Beberapa orang mencegah perkelahian itu. Febri hanya menjerit-jerit. Dia berlari dan memeluk mamanya.

“Sudah papa bilang, jangan main sama anak bergajul seperti itu!”

Kata papanya.

“Siapa yang bergajul, Pa?” Febri menangis menatap Tomi

“Dia lelaki yang baik kok, pa.”

Tomi diam saja. Dia bisa memaklumi orang-orang tua seperti papa-mamanya Febri, yang punya status,uang,dan kehormatan. Golongan seperti ini selalu menilai orang lain dari sisi negatifnya saja.

“Jangan coba-coba dekati anak kami lagi!” papa Febri menghardik Tomi.

“Ini pasti salah paham Om” Tomi mencoba menerangkan.

Si Sopir menimbrung, “Untung saya masih bisa bersabar!”

Tomi diam saja. Percuma mencoba memberi pengertian kepada orang yang merasa lebih dalam segala hal. Tidak ada gunanya. Sama saja dengan mencoba menjadi dungu jika berhadapan dengan seseorang yang sombong atau keras kepala. Begitu Tomi menimbang-nimbang.

Dua orang polisi menerangkan kepada Tomi “Mereka melapor ke kami, kalau anak gadisnya hilang” kata polisi yg berkumis.

Tomi memang sudah cukup dikenal di kawasan wisata ini.

Tomi hanya meringis. “Orang kecil seperti saya, Pak, memang lebih pantas dicurigai, ya?” katanya pahit.

“Maafkan saya, Tom” saya hanya menjalankan tugas,” kata si polisi lagi

“Apa itu berarti, saya akan ditangkap?” Tanya Tomi

“Ayolah, kita ke kantor dahulu. Nanti di sana segalanya kita bereskan” polisi berkumis itu tersenyum tidak enak.

Tomi mengikuti kedua polisi itu ke kantor.

“Tom, Tomi!” Febri berteriak-teriak ketika mamanya menyeretnya untuk pulang.

Tomi hendak mengejarnya, tetapi kedua polisi itu mencegahnya.

“Jangan cari masalah, Tom” saran polisi itu.

“Bapaknya orang berpengaruh di Jakarta. Nanti kami juga ikut repot”

“Sekarang, yang penting kita ke kantor dahulu!” tegas polisi satu lagi.

Tomi mengeluh. Dia pasrah dan membiarkan saja Febri dibawa pergi orang tuanya. Kini yang ada di benaknya, dia ingin berlari ke gubuknya, menyelesaikan lukisan Febri yang belum selesai di air terjun lalu menyerahkan lukisan itu kepada Febri.

0 Komentar

Mohon Aktifkan Javascript!Enable JavaScript