Lukisan [Part 1: Pantai dan Kepiting]

ilustrasi lukisan febri di pantai

Febri telah berusia 22 tahun, usia yang merupakan masa pembebasan bagi hidupnya dan masa ia dituntut untuk lebih mandiri dan mampu memutuskan sikap jika ada kesulitan. Akan tetapi, hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagai anak tunggal, Febri tetap dikekang dan diawasi. Ia harus tetap menaati bahwa hatinya adalah sebuah pribadi yang mempunyai hasrat, pendirian, pandangan, dan tujuan hidup sendiri. Dengan keberanian dan ketegaran Febri mengambil sikap yang menunjukkan bahwa ia sudah dewasa.

Dari kisah ini dapat dipetik, yaitu bagaimana seorang anak bersikap kepada orang tuanya dan bagaimana orang tua bersikap dan mendidik anaknya.

Febri berjalan sendirian di pasir putih. Cottage tempatnya menginap bersama papa-mamanya sudah jauh di belakang.

Dia menyusuri pantai carita yang indah. Ombaknya berdebur lembut dan tidak berisik. Seperti Pangandaran atau Bali. Beberapa turis mancanegara mandi di laut sambil menikmati matahari sore yang ramah. Langit barat yang bagai layar raksasa mulai berwarna merah, kuning, biru, serta abu-abu. Anak-anak kampung bermain bola plastik dan berguling-guling di pasir.

Febri membiarkan air laut menjilati kakinya yang putih. Malah kini pasir merenggut sampai ke mata kakinya. Dia berhenti, menyaksikan para nelayan yang sedang menarik jala, yang sudah ditebar sejak siang tadi. Mereka membuat barisan dua kelompok. Kedua tali itu mereka tarik berbarengan, diiringi nyanyian nelayan yang mengharapkan banyak ikan tertangkap

“Ayo, tariiiiik!” teriak seseorang memberi aba-aba.

“Tariiiiiik!” sambut yang lain.

Para nelayan itu dengan gembiran menarik tali jala. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Febri bahwa ikan yang selama ini terhidang di meja makan tidak seimbang antara tenaga yang di keluarkan dan penghasilan yang di dapat. Betapa asin hidup mereka, seperti halnya air laut. Yang menikmati jerih payah mereka selalu saja para tengkulak, dan pemilik modal di restoran-restoran sea food ternama di kota besar.

Di antara keharmonisan pantai, perahu, ombak, nelayan, Febri melihat seorang pemuda berambut gondrong, tertawa-tawa ikut menarik jala. Ia bertelanjang dada dan berwajah ganteng. Pemuda itu tampak mencolok di antara para nelayan selat sunda ini, yang rata-rata hitam dan kusut.

“Siapa anak yang gondrong itu? “ batin Febri bertanya

Tidak lama jala pun sudah di tarik ke pantai. Beragam ikan menggeliat-geliat terjaring di jala. Tidak begitu banyak, tetapi tetap membuat nelayan gembira. Mereka sudah terbiasa pasrah menerima bahwa rezeki yang datang hari ini sudah di atur Yang Maha Pencipta.

Mereka mengambili ikan itu lalu para wanita memasukkannya ke bakul-bakul. Wanita-wanita itu menawarkan harganya dan terjadilah jual-beli. Para wanita itu membawanya ke pasar atau ke tempat pelelangan ikan. Mereka menjual ikannya lagi. Dari pasar atau Tempat Pelelangan Ikan, ikan-ikan itu berpindah tangan lagi. Pada akhirnya, ikan itu akan terhidang di meja makan. Saat memakannya, kita tidak pernah menyadari bahwa para nelayan terapung-apung di tengah lautan mencari ikan.

Febri mendekat. Hatinya begitu ter-enyuh dan prihatin melihat nasib nelayan. Penghasilan yang mereka peroleh tidak seimbang dengan tenaga yang di keluarkan. Tiba-tiba ia terlonjak kaget. Ia menjerit takut dan geli ketika ada udang meloncat ke kakinya. Orang-orang kampung tertawa lucu dan gembira, lebih-lebih pemuda kota itu. Malah, dengan nakal anak kota yang ganteng itu menakut-nakuti Febri dengan kepiting. Febri mundur sambil menjerit.

“Masa sih sama kepiting aja takut?” pemuda gondrong itu tertawa kecil, “dasar anak manja!”

Para nelayan tertawa melihatnya, sedangkan Febri tertegun mendengar omongan anak kota tadi. Anak Manja, batin sebal. Sungguh tidak enak julukan itu. Sekarang, dia tidak ingin dibilang anak manja atau bau kencur lagi. Itu julukan ketika dia masih di SMP.

Sekarang, dia baru saja ulang tahun yang ke 22. Berarti, kini masa pembebasan bagi hidupnya. Masa di mana dia dituntut untuk lebih mandiri, mampu memutuskan sikap jika ada kesulitan, dan belajar untuk bias memecahkan persoalan sendiri.

Kamerin, Febri merayakan ulang tahunnya yang ke 22 di sebuah hotel ternama. Ia mendapat tepuk tangan, kecup, dan kado dari kawan-kawannya. Akan tetapi, hatinya tetap kosong karena tidak ada Arjuna yang mendampinginya.

Febri anak semata wayang. Papa-mamanya memang sangat memanjakannya. Mereka tidak pernah melepaskan pergi sendirian.

Berdesak-desakan di bus kota, tidak pernah. Sebuah sedan serta supir pribadi selalu setia melayani ke mana saja Tuan Putri hendak pergi.

Febri gadis cantik, tetapi kekayaan, kehormatan, dan aturan dari orang tuanya membuat setiap pemuda di sekolahnya berpikir jutaan kali untuk menjadi pacarnya. Di malam hari, tidak ada pria yang berani bertamu sendirian ke rumahnya, terlebih malam minggu.

Rumahnya yang mewah dipagari tembok setinggi dua meter. Di pintu

Gerbangnya terdapat tulisan “Awas anjing galak” dan di jaga satpam.

Febri memang bagai putri raja yang terkurung di tembok istana.

Dia kadang suka bermimpi, suatu hari ada kesatria gagah berani datang meminangnya seperti di dongeng-dongeng H.C. Andersen.

“He, siapa yang anak manja! Sembarangan aja kamu nuduh!” tiba-tiba timbul keberanian dalam diri Febri.

Pemuda bandel itu tersenyum menatapnya. “Oh, jadi gak mau disebut anak manja lagi? Bagus dong.“ katanya mendekat.

“Kalau gitu, kamu mesti berani pegang kepiting ini.

Gimana, Anak Manja?”

Febri terlonjak. Ia merasa jantungnya hamper copot. Keringat dingin tiba-tiba muncul dari kulitnya. Ia merinding. Perasaan takut itu muncul sangat kuat sekali. Febri merasakan sekelilingnya tiba-tiba berputar dan berubah gelap. Febri roboh. Pemuda gondrong itu menahannya untuk tidak jatuh ke pasir. Dia meminta tolong kepada beberapa nelayan untuk menggotong Febri.

Febri menggeliat. Sebuah handuk basah menutupi keningnya, lumayan sejuk. Lalu seketika pulih, dia kaget sekali mendapatkan dirinya ada di sebuah dipan beralaskan tikar.

Dia mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padanya.

“Si Gondrong nyebelin itu!” makinya kesal.

Febri berusaha untuk bangkit. Angin pantai membelainya lewat jendela. Dia masih melihat ombak berdebur dari jendela. Betapa nyaman dan indah pemandangan dari sini. Pasir, ombak, dan cakrawala yang penuh misteri. Dari jendela dia bisa melihatnya beberapa lukisan yang belum jadi, cat minyak, dan kanvas teronggok di teras luar.

Febri langsung meneliti ruangan ini, yang kira-kira sebesar 4x5 meter. Ruangan tersebut berdinding bilik dari anyaman kulit bambu. Di sana banyak lukisan menggantung. Ada lukisan Purnama dalam laut, Senja dan Perahu, Ombak dan karang, Matahari Pagi, dan lukisan seorang gadis Eropa tanpa busana sedang melungkup di pasir.

“Huh” dia langsung mengalihkan pandang.

“Tidak beradab!”

Febri melihat ke luar lagi. Di pantai tampak para nelayan yang berkerumun. Mereka tersenyum kepadanya. Febri berusaha membalas senyum mereka, walaupun masih terasa pusing. Tiba-tiba pintu berderit di buka orang.

“Udah bangun, Non?“ seseorang melongok dari pintu.

“kalau masih pusing, istirahat aja.” Senyumnya mengembang.

“Gak usah sungkan, ini gubukku, kok.” Lantai dari papan pun berderak diinjaknya.

Febri bergetar melihat senyum si pria menyebalkan itu. Sebelumnya dia belum pernah berasakan ini. Dia langsung melengos, melihat suasana di luar gubuk yang mulai temaram. Pemuda itu menyalakan lilin.

Mulianya lilin, walaupun tubuhnya terbakar tetap menyinari penerangan pada seisi bumi.

“Gubuk ini aku sewa dari setengah tahun lalu. Aku rombak lagi. Aku bikin panggung,” kata si pemuda.

Febri sudah duduk di pinggir dipan kemudian ia berdiri.

“Aku paling betah duduk dekat jendela,” kata si pemuda lagi,

Berdiri di depan jendela. Ia membuka daun jendela lebar-lebar. “pantai, ombak, dan cakrawala kaya jadi kepunyaan ku sendiri,” katanya lagi.

Senja sebentar lagi akan tiba.

“Aku minta maaf, ya.” pemuda bandel itu tersenyum lagi.

Febri menuju pintu. Dia bermaksud kembali ke cottage.

Papa-mamanya pasti cemas menunggu. Dengan kikuk dia meniti tangga bambuu yang curam itu.

“Mau pulang sendirian? Berani?” si Badung ini menakut-nakuti,

“Gak baik lho gadis secantik kamu jalan sendirian. Sebentar lagi juga gelap. Nanti ada sandekala menculik kamu!” katanya sambil melompat ke pasir.

Febri berhenti. Kalimat si Badung tadi mempengaruhi juga, Apa lagi ketika Sandekala, hantu yang suka berkeliaran menculiki anak-anak di saat pergantian senja ke malam hari, disebut-sebut. Bulu kuduknya berdiri. Ketakutan terpancar jelas di wajahnya.

“Papa-mamaku pasti cemas menunggu aku pulang,” suara Febri bergetar.

Pemuda Gondrong ini tertawa. “Mendingan kita nikmati senja dahulu, yuk!” ajaknya menawarkan. “Nanti aku antar pulang, deh,”

Katanya lagi sambil memanggil pedagang kelapa muda. Dia minta dikupaskan dua biji.

Anehnya, Febri tidak sanggup menolak. Dia mengekor saja ke mana pemuda ini melangkah.

“Nama ku Tomi,” dia memperkenalkan diri.

Febri menatapnya dengan bingung. Selama ini, dia tidak terbiasa berbicara dengan lelaki asing. Di sekolah saja dia hanya berbicara seperlunya dengan kawan-kawan lelakinya.

“Kalau keberatan kasih tau nama kamu, ya gak apa-apa,” Tomi menyodorkan kelapa yang sudah dikupas dan dilubangi. “Ayo, coba diminum. Segar,lho,” ajaknya.

Kelapa muda itu menantangnya. Febri ragu-ragu mengambilnya. Dia belum pernah meminum kelapa muda sembarangan seperti ini.

Bagaimana kalau goloknya kotor? Bisa-bisa kena diare nanti. wah, mama-papanya pasti bakalan semaput!

“Ambillah.” Tomi memaksanya.

Akhirnya, Febri mengambil kelapa muda itu. Tomi membayar lima ribu rupiah untuk dua buah.

“Duduk di sana, yuk.” dia menunjuk sebuah perahu yang ditelungkupkan. Tomi berjalan duluan. Anehnya kaki Febri bergerak mengikuti Tomi. Mereka menuju perahu rusak itu. Tomi melirik, tetapi Febri menunduk. Hati Gadis manja itu berdebar-debar. Tomi duduk menggelesot di pasir sambil menyandar di punggung perahu. Febri berdiri kikuk. Lengannya bergetar memegangi kelapa muda.

“Kalau takut kotor, ya, duduk di perahu aja,” Tomi meneggak air kelapa muda itu. Air kelapanya bercipratan dari bibirnya. “Oh,Segar!”

Betapa nikmatnya suaranya. “Sekarang giliran kamu minum, Ayo!”

Febri tanpa sadar mencoba meminum langsung dari buah kelapa. Belum juga bibirnya menempel pada lubang, air kelapa sudah berhamburan ke pipi serta kausnya, Tomi tertawa keras, sedangkan Febri Cemberut. Tomi mengajari Febri, Bagaimana cara meminum air kelapa langsung dari buahnya. Febri mencobanya. Lagi-lagi air kelapa itu berhamburan ke pipi serta kausnya. Febri tertawa kecil. Tiba-tiba dia merasa gembira. Dicobanya sekali lagi, kali ini perlahan-lahan. Dia berhasil meminumnya sedikit, walaupun terbatuk-batuk.

“Lumayan untuk permulaan! Dasar orang kota!” ejek Tomi.

Febri dengan malu-malu duduk di perahu, tetapi kepeleset.

Memang sulit duduk di punggung perahu jika tidak terbiasa. Gadis itu mencoba lagi. Kali ini lebih parah, ia tergelincir dan jatuh ke pasir.

Tomi terpingkal-pingkal saking senangnya.

“Duduk sini saja,” Tomi menarik Febri agar duduk di sebelahnya.

Anehnya Febri menurut saja. Mereka kini menghadap layar raksasa di barat.

“Kamu pernah ngeliat senja?” Tanya Tomi

Febri mengangguk. Febri terpaku begitu ada perubahan dahsyat serta magis dari langit barat selat sunda. Tomi juga merasakannya.

Matahari pelan-pelan ditelan mulut horizon.

“Ya, senja di sini lebih indah, betapa damai dan tenang. Kalau di Bali dan Pangandaran, berisiknya minta ampun,” kata Febri.

Tomi mendengarkan, tetapi matanya tetap terpaku pada perubahan alam yang ajaib itu. Baginya langit senja adalah kanvas Tuhan dengan lukisan yang cat minyaknya diambil dari sungai-sungai di surga.

“Kamu seniman, ya?” Febri menebak

Tomi mendelik.

“Maksudku, kamu pelukis,” lanjut Febri.

“Aku sedang latihan melukis alam,” Tomi memberitahu bahwa dirinya mahasiswa seni rupa di Jakarta.

Febri menatapnya takjub. “Lukisan-lukisan di gubuk kamu tadi bagus,lho” puji Febri, “kecuali...” dia tidak meneruskan kalimatnya.

“Kecuali apa?” Tomi tersenyum.

“Kecuali satu yang jelek.” kata Febri

“Yang mana?” Tanya Tomi

“Lukisan cewek telanjang!” kata Febri

Tomi tertawa. “Kamu mau aku lukis seperti itu?” pancingnya.

“Ih, amit-amit!” pipi Febri memerah.

“Kamu mau aku lukis?” Tanya Tomi

“Betul? Kapan?” Febri gembira.

“Besok, ya!” Tomi menentukan.

Febri mengangguk-angguk mirip bocah yang mendapat hadiah boneka.

“Sekarang antar aku pulang,” Febri berdiri. Dia menepuk-nepuk pasir yang menempel di kakinya.

“Akan tetapi, kamu belum menyebutkan nama,” kata Tomi

“Nama ku jelek, Febri” Febri menyebutkan namanya malu-malu.

Ia menunduk.

“Siapa yang bilang jelek?” Tomi tersenyum dan mencari-cari sesuatu di balik karang.

“Kamu cari apa?” Tanya Febri

“Cari Kepiting!” jawab Tomi

Febri berlari ketakutan, “Oh, Tomi, jangan!”

Tomi tertawa mengejarnya sambil mengacung-acungkan seekor kepiting. Mereka berkejaran di pantai dengan latar belakang cakrawala yang merah jingga. Mereka tertawa-tawa bermain ombak sampai basah serta berlumuran pasir. Senja betul-betul sudah berlalu. Langit kini berubah jadi hitam dan terang oleh sejuta bintang. Laut yang semula biru juga berubah hitam. Cahaya bintang-bintang di angkasa bergoyang-goyang di permukaan laut. Ombak terus saja berdebur ditimpali dengan dasau angin.

>>Klik disini untul lanjut ke part 2<<

0 Komentar

Mohon Aktifkan Javascript!Enable JavaScript