Bahagia dari diri sendiri
Karena pada post sebelum nya gue sharing pengalaman gue tentang gimana orang yang gak bisa jujur sama diri sendiri dan selalu bilang gapapa di post “Si tukang jawab gapapa” dan orang-orang yang jahat dengan diri nya sendiri di post “Jahat dengan diri sendiri”, sekarang gue mau coba sharing sesuatu yang masih berhubungan dengan 2 topik tersebut yaitu tentang orang-orang yang mencari kebahagiaan nya dari orang lain.
Kenapa kok berhubungan? Karena setiap porsi masalah manusia itu berbeda-beda, ada yang ngalamin, ada yang gak. Ada yang udah ngalamin semua jenis, ada yang baru ngalamin beberapa.
Ada manusia yang gak bahagia karena selalu jawab gapapa terus malah ngebuat dia jadi gak bahagia, ada yang jahat sama dirinya sendiri yang ngebuat dia juga gak bahagia, dan pastinya ada juga orang yang gak bahagia karena mereka selalu mencari kebahagiaan dari orang lain.
Masalahnya, salahkah buat cari kebahagiaan dari orang lain? mungkin jawaban nya adalah tergantung dari sudut mana lo bisa ngeliat ini. Kalau dijawab secara harfiah ya pasti gak akan salah, tapi sebelum kesana kita harus tau dulu bahwa gak selamanya kita bisa dapetin bahkan bergantung kepada orang lain untuk kebahagiaan kita even manusia adalah makhluk sosial. Lo harus ngerti kalau lo juga punya tanggung jawab untuk kebahagiaan lo sendiri, dan memang butuh kebahagiaan dari diri lo sendiri sebelum lo bisa ngebahagiain orang lain.
Sounds familiar, right? Ya memang karena ini bukan petuah yang baru ditemukan sama para peneliti, atau breakthrough innovation dari orang-orang ber IQ tinggi tapi memang itu adalah ajaran yang sudah lama diajarkan dan dilakukan oleh banyak orang. Walaupun gitu, banyak orang hanya ngejadiin kalimat tersebut hanya berakhir menjadi kalimat, bukan dimengerti bahwa itu adalah salah satu cara yang bisa mereka pakai untuk ngerasa lebih bahagia.
Like usual, I will tell you why.
Percaya atau gak, kebahagiaan yang lo cari dari orang lain itu sifatnya sementara. Karena ketika lo mendapatkan semua kebahagiaan yang lo harapkan dari orang yang lo harapkan juga, lo pastinya akan ngerasa senang dan begitu bahagia, ngerasa kalau lo adalah manusia paling beruntung di dunia dan berharap ke Tuhan untuk bisa berhentiin waktu supaya semua itu gak berlalu.
Tapi bagian yang berbahaya nya adalah ketergantungan untuk mencari kebahagiaan dari orang lain. Karena lo akan terus kehausan akan kebahagiaan itu dari orang lain, sampai pada saat nya ketika orang itu pergi dari kehidupan lo dan lo bener-bener dibuat pusing bukan kepalang karena lo kehilangan sumber kebahagiaan lo.
Kok bisa? Ya, karena lo lupa kalau lo punya tanggung jawab untuk jadi sumber kebahagiaan lo juga, sumber kebahagiaan lo sendiri. Karena memang pada dasarnya gue rasa kebahagiaan itu harus selalu dari 2 sisi, dari diri lo sendiri dan dari orang lain, karena bakal hambar juga lo terlalu bahagia dengan diri dan kehidupan lo sendiri tanpa orang lain ataupun sebalik nya seperti yang gue jabarin barusan.
Gue pernah menempatkan sumber kebahagiaan gue di pada seseorang, memang gue ngerasa jadi manusia paling beruntung ketika gue mendapatkan apa yang gue harapkan dari dia. Tapi ketika dia ninggalin gue, gue jadi bener-bener kaya orang gila, bukan ngada-ngada tapi gue emang ngerasa kehilangan semua hal yang gue punya karena gue ketergantungan untuk mencari kebahagiaan dari dia dan lupa kalau gue juga punya tanggung jawab untuk itu.
That’s why menciptakan kebahagiaan dari diri sendiri itu penting karena ketika ‘orang’ itu pergi, lo tetap bisa bahagia. Ya, tentu nya ketika ditinggalkan oleh seseorang kita gak bakal sebahagia itu, tapi setidak nya lo punya control atas diri lo sendiri supaya gak terjatuh terlalu jauh.
Semua nya bukan tentang seakan semua orang akan pergi ninggalin lo dan lo harus siap itu, bukan gitu tapi lebih ke lo itu sebenernya punya andil dan tanggung jawab dalam kebahagiaan lo sendiri. Karena kalau lo ngebebanin orang lain untuk selalu jadi seseorang yang harus selalu ngebahagiain lo itu egois namanya.
Kenapa gue ingin sharing tentang ini? Alasan nya sama, karena gue masih ngeliat ini ada banyak di sekitar gue. Mereka hanya mengharapkan orang-orang, teman-teman atau pasangan nya untuk membahagiakan dia sedangkan mereka gak punya andil dalam kebahagiaan mereka sendiri, ketika orang terdekat mereka sedang gak bisa memberikan kebahagiaan yang dia harapkan, dia akan ngerasa marah karena orang terdekat nya gak bisa mengerti apa yang dia rasain.
Akhirnya jadi selalu demanding mereka harus mengerti dia, ngebuat semua orang yang ada di dekat nya malah pergi ngejauh. Kata mereka “Capek” sedangkan dia bersikeras merasa “harusnya lo bersyukur lah gue sayangin dan di cintai sebegitu nya” atau bisa kita kenal dengan bucin. Dia gak ngerti kalau orang terdekatnya itu emang capek karena selalu dia bebanin untuk selalu bahagiain dia, tanpa dia sendiri mencoba jadi seseorang yang bahagia dan bisa membahagiakan orang disekitarnya.
Karena kebanyakan orang juga yang ngerasa “tersakiti” karena ulah pasangan sebelumnya dan yang merasa belum bahagia akhirnya mencari orang yang tepat untuk ngebahagiain dia dan berharap untuk menghapus semua cerita pahitnya. Bukan salah satu yang hancur atau dua orang yang hancur berusaha untuk membahagiakan satu sama lain, it doesn’t work on that way.
Hubungan yang sehat itu adalah 2 orang yang bisa bahagia dengan dirinya sendiri terlebih dulu, baru akhirnya bisa berbahagia dengan orang lain yang bahagia. Sama-sama bahagia, baru tuh ketemu. Supaya gak ada pengharapan yang begitu tinggi dari satu sisi ataupun kedua belah pihak, seakan-akan jadi sebuah goals, bukan sama-sama bahagia dulu lalu bisa saling membahagiakan.
Jadi pepatah “Kita harus bahagia untuk bisa membahagiakan orang lain” itu ya memang begitu adanya. Kalau diri sendiri aja belum mampu bahagia, gimana mau bikin bahagia orang lain?
Jadi coba buat kebahagiaan itu dari dalem diri lo dulu, gimana caranya? Itupun gue gak tau, so you need to ask yourself. Karena tiap orang bahagia di tahap dan level yang berbeda-beda. Seperti ada orang yang “Ah gila bosen banget 1 hari ini 3x makan ayam geprek mulu” satu sisi ada “wah alhamdulillah banget, sehari ini gue bisa makan 3x walau cuma nasi goreng kecap. Gak kelaperan karena cuma 2x makan.”
So you need to find your own happiness, because it’s yours.

0 Komentar