Tentang jodoh (bersama Prof. Quraish Shihab)
Gue ada nonton sebuah video diskusi yang membahas tentang topik yang akan selalu dibahas semua orang, yaitu tentang jodoh. Ini adalah video diskusi nya Mba Nana dan Prof Quraish Shihab di channel nya Mbak Nana sendiri.
Beliau menjawab: jika pilihan sang anak tidak bertentangan dengan agama, itu dibenarkan, itu hak. tapi kalau bertentangan, dia berdosa.
Video ini beberapa menjawab pertanyaan gue dan menambah preferensi gue tentang Jodoh, mungkin juga bisa menjawab pertanyaan yang temen-temen punya atau juga menambah preferensi. Bisa didengarkan juga oleh temen-temen yang bukan muslim, karena beliau sampaikan itu adalah sebuah cara yang baik, bisa juga diselaraskan dengan kebaikan yang diajarkan oleh Agama temen-temen yang gue yakin kurang lebih sama.
Jadi ceritanya di Video ini Mba Nana berbincang dengan sang ayah Prof Quraish Shihab mengenai jodoh. Video nya terbagi jadi 3 episode dengan berbagai pertanyaan dari Mba Nana dan pertanyaan dari netizen yang dibacakan oleh Mba Nana. Kalian bisa liat langsung semua isi video nya nanti gue cantumin ketiga video nya di post ini, dan gue akan meng highlight aja dengan juga sharing tentang pandangan gue berdasarkan apa yang gue alamin dan rasain sekarang.
Episode 1:
Disitu dibuka oleh Mba Nana yang memang udah kebiasa buka acara hahaha tapi yang bikin gue gemes itu hubungan anak dan ayah dari Mba Nana dan Prof Quraish Shihab yang adem banget.
“Sehat-sehat, Abi ku?” kata Mba Nana, keliatan Mba Nana ini deket dengan ayah nya.
Lalu dimulailah pembahasan tentang jodoh itu apa. Temen-temen bisa mendengarkan semua penyampaian dari beliau dengan sangat amat lembut, itu gue seneng dari beliau ini sedari dulu adalah penyampaian nya bener-bener lembut, pemilihan katanya yang menjawab juga menenangkan bukan memecah belah.
Beliau menuturkan bahwa jodoh itu dalam Bahasa Indonesia adalah pasangan, seperti sendal yang kanan berpasangan dengan yang kiri.
Lalu point yang menarik dari episode pertama ini adalah salah satunya, ini gue sum up aja ya dengan bahasa gue tapi itu sesuai dengan yang beliau bilang.
“Manusia punya kemampuan untuk berusaha, hasil usaha nya pada akhirnya ditentukan Tuhan”
dan beliau menekankan lagi
“Harus berusaha karena ia akan diberikan jodoh jika ia berusaha. sama dengan kematian, orang ini akan mati jika dia tidak berobat, jika dia berobat hidupnya akan berlanjut sekian tahun."
Gue setuju banget, jodoh itu diusahakan bukan hanya menunggu. Lalu apa aja sih usaha nya? menurut gue itu ada banyak banget dari berusaha mencari dan berusaha menjaga, kalau belum bertemu ya pasti mulai dari gimana usaha kita merawat diri sendiri yang bisa buat orang senang dan tertarik seperti contohnya badan nya wangi dan berpakaian yang rapih.
Kalau misalnya udah ada yang mau sama kita? berusaha untuk melengkapi satu sama lain, karena menurut gue kita bisa menjodohkan diri dengan orang yang kita sayang lalu di aminkan oleh yang maha kuasa. Mencoba melengkapi kekurangan dengan kelebihan masing-masing, mencoba untuk memperbaiki dan mengeratkan satu sama lain, saling menguatkan dikala rapuh dan saling menjaga disaat kebahagiaan datang.
“Bolehkah langsung menyebut nama dalam doa agar berjodoh?” kata Mba Nana, dan dijawab oleh beliau “Boleh, minta sepatu atau tas dengan merek tertentu juga boleh dan tanpa katapun boleh karena dia yang paling tau tentang keadaan kita.”
Menurut gue memang seharus nya kita itu jujur ke Tuhan walau memang Dia tau apa yang kita mau dan kita butuhin sekarang karena memang Dia maha pendengar segala doa, maha pengasih segala rezeki dan nikmat juga maha penyayang kepada umat-umat nya. Kenapa kita gak minta ke Dia yang maha kaya dan maha pemberi?
Gue pernah ngga solat selama kurang lebih setahun dan benci dengan Tuhan karena suatu alasan, tapi ada suatu momen yang bikin gue jadi ngerasa bener-bener malu karena semua hal yang gue “Semoga” kan selalu dikabulkan. Sejak saat itu lah gue sadar mungkin yang dulu gue mau bukan merupakan sesuatu yang baik buat gue dan gue ngga ngerti hal itu. Setelah itu gue jadi rajin meminta di dalam doa gue untuk bermacam hal, meminta ampun, meminta limpahan rezeki, kemudahan, kebahagiaan dan juga dijauhi dari segala hal yang tidak baik maupun orang yang tidak baik.
Begitu juga dengan jodoh, ketika gue ragu dengan seseorang pun gue sebut namanya dalam doa gue jika memang dialah jodoh gue, semoga dilancarkan segala sesuatu sampai akhirnya bahagia nanti dan dipertemukan dengan sebuah cara untuk bersama.
Lalu ada sebuah kata yang mungkin bisa jadi preferensi kita semua juga.
"Jika anda sudah senang kepada seseorang, jangan tanya akal anda. karena kalau tanya akal, ada kekurangan nya.”
Bener banget, kalau emang udah gue juga ngerasa waktu dulu gue punya pacar itu bahwa sebener nya apapun kekurangan dia yang nampak di mata gue itu malah ngga jadi begitu berarti karena gue nerima dia seluruhnya dan mungkin akan jadi sebuah alasan yang buat gue jadi makin sayang sama dia dan jadi sesuatu yang gue sangat rindukan ketika jauh darinya.
Lanjut ke episode 2:
Lanjut ke episode 2:
Dibuka dengan pertanyaan apakah jodoh itu cerminan diri atau menjadi pelengkap diri, beliau jawab “dua-duanya”
Beliau menuturkan adanya persamaan-persamaan yang dapat membuat hubungan semakin kuat, yaitu:
1.Tau: “orang yang berpasangan harus sama-sama tau, jangan menyembunyikan sesuatu dari pasangan anda. dilengkapi juga, jika salah satu ada yang lebih bisa, dia lengkapi.”
Yes, harus sama-sama tau dan ngga ada yang disembunyikan dari pasangan nya, karena kalau memang sayang pasti semua akan dilalui berdua dan ditanggung berdua, karena pasangan itu menurut gue meleburkan 2 insan.
2.Gerak: “sama-sama gerak, jangan satu kiri satu kanan.”
Karena menurut gue juga jodoh itu menyenadakan, pada dasarnya adalah kedua insan yang berbeda dengan satu sama lain namun adanya negosiasi yang bisa diutarakan dan disampaikan dengan cara yang baik sehingga saling melengkapi dan menyenadakan satu sama lain.
3.Rasa: “sama-sama punya rasa”
Untuk rasa beliau disini ngga menjabarkan dengan detil nya gimana, tapi menurut gue itu rasa saling memiliki dan saling menjaga. kita akan mejaga ketika kita mempunyai rasa memiliki, rasa memiliki satu sama lain ialah bahwa kebahagiaan, rasa percayanya, kesehatan nya, senyumnya adalah tanggung jawabku dan rasa menjaga semua itu akan tetap ada juga saling menjaga ketika dijauhkan oleh jarak sampai waktunya pulang.
4.Cinta: yap tanpa keraguan dan butuh dijelaskan lagi, karena kalau memang sedari awal ngga cinta jangan sampai ucapkan janji tuk selalu bersama.
Setelah itu ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan itu sebuah pertanyaan yang banyak banget dijadiin alesan oleh orang-orang sekarang yaitu
“Perempuan boleh melamar?” lalu beliau menuturkan “Boleh, budaya yang melarang dan menganggap buruk tapi agama tidak. tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan." Dengan contoh ekstrim yaitu melamar.
Banyak banget perempuan yang ngejadiin sebuah hubungan itu jadi rumit banget walau sebenernya mereka berdua itu sama-sama saling suka dan saling cinta dengan alesan “Kan gue cewek, masa gue yang mulai duluan?” gue tau memang wanita ialah makhluk yang diciptakan sebagai makhluk yang lebih lembut dan lebih “special” dengan segala kelebihan nya dibanding laki-laki, budaya yang membuat bahwa laki-laki lah yang harus mengejar perempuan. Ya gue pun ngga bisa memungkiri itu, karena pada dasarnya pun gue sebagai lelaki yang akan selalu berusaha untuk mendapatkan hati sang wanita tapi kenapa tidak wanita juga membantu segala nya menjadi lebih mudah dengan memberitahukan rasa mereka pada kita laki-laki. memang kita laki-laki akan memperlakukan kalian para wanita sebagai ratu tapi kami juga bukan Tuhan yang bisa mengetahui segala keinginan kalian tanpa adanya kata yang terucap.
Ngga hanya dengan melamar tapi juga dengan mengungkapkan sebuah rasa. Bukankah jodoh ialah yang saling melengkapi? Jika memang ada sesuatu yang mengganjal, mari sama-sama tuk lontarkan apa yang bisa kita lakukan bersama untuk membuang semua tembok yang mengganggu jarak antara kita untuk diselesaikan. Apa yang harus aku perbaiki dan apa yang harus kamu perbaiki, bantulah aku untuk jadi apa yang kamu mau dan aku pun akan membatu kamu menjadi yang aku mau.
Jadi ngga akan ada pertanyaan selanjutnya yang akan muncul, seperti pertanyaan netizen yang dibacain Mba Nana.
"apakah ada cara untuk wanita menjemput jodoh selain menunggu?" dijawab oleh Prof Quraish Shihab bahwa yang dimaksud menunggu pun dibarengi dengan usaha, dan menurut gue juga ngga bakal menunggu jika semua hambatan diutarakan untuk diselesaikan.
Juga ada sebuah pertanyaan yang bisa jadi referensi temen-temen yang muslim itu gembar gembor “Pacaran ngga boleh dalam Islam” bahkan ada komunitasnya tuh “Indonesia tanpa pacaran” hahahaha.
Pertanyaan nya itu: "Apakah berpacaran itu boleh?" lalu dijawab oleh beliau "budaya berkembang, berpacaran dalam bahasa indonesia adalah janji kawin, itu boleh tapi ini harus dipagari sehingga tidak timbul kecelakaan. mencari tau pribadi untuk saling mengenal itu di perbolehkan selama tidak melanggar agama dan tujuan untuk menikah."
Yes, gue tau maksud dari Indonesia tanpa pacaran adalah sesuatu yang baik untuk menghindarkan kita dari sesuatu yang menjerumuskan, tapi menurut gue bukan dijadikan standard untuk seluruh muslim yang ada di Indonesia karena setiap insan punya cara yang berbeda-beda untuk menerima orang lain kedalam kehidupan kita. ada yang bisa menerima untuk berkenalan setelah menikah dan ada juga yang butuh masa berkenalan atau ya kita sebut pacaran untuk mengenal satu sama lain meyakinkan diri bahwa dia adalah orang yang tepat.
Kenapa pacaran di katakan harus dihindari? Karena godaan nya. Ya, gue tau godaan ketika berpacaran itu bener-bener susah untuk dihalau. Disaat dengan orang yang kita sayang pasti kita ingin selalu berdekatan dengan dia tanpa orang yang menganggu, tapi disitulah godaan nya yang sebenarnya di dalam Islam dan mungkin agama lain juga sama takutkan yaitu ada batas yang dilanggar. Karena zaman terus berkembang, dan manusia pun harus berkembang caranya, karena semua yang berkembang tidak selalu buruk. Tapi ngga ada salahnya untuk berpacaran, tapi sesuai dengan anjuran Prof Quraish Shihab dengan mengajak kerabat atau keluarga sehingga tidak hanya berdua yang mana pacaran nya tentu bisa jadi sebuah sarana untuk mengenal satu sama lain dengan tujuan pernikahan.
Lalu selanjutnya pertanyaan untuk perjodohan, siapa yang berhak mengambil keputusan untuk memilih jodoh? Beliau menjabarkan bahwa anak dan orang tua mempunyai hak veto masing-masing yang mana orang tua punya hak veto untuk menolak seseorang dengan perilaku yang kasar mendekati anak nya misalnya ataupun sang anak yang tidak suka dijodohkan dengan pilihan orang tuanya.
Dan beliau menuturkan "kalau bisa mempertemukan dua pihak, maka itu yang paling baik. jika tidak baik maka bisa ditunda dan mencari yang lebih baik, tapi jika terpaksa dan setelah diusahakan dan belum juga maka yang akan menjalani kehidupan yang lebih berhak menentukan."
Semuanya bisa dirundingkan jika memang belum ada yang sesuai, dan juga bisa ditunda sampai menemukan sosok yang bener-bener cocok. Dan kalau belum cocok juga, maka yang bisa menentukan itu yang akan menjalani kehidupan nya yaitu sang anak.
Tapi gimana kalau akhirnya ketika anak nya memilih "saya izinkan tapi tidak saya restui" ?
Beliau menjawab: jika pilihan sang anak tidak bertentangan dengan agama, itu dibenarkan, itu hak. tapi kalau bertentangan, dia berdosa.
Ya gue sangat setuju, jika memang kita berusaha memantaskan diri untuk jodoh kita seharusnya tidak akan ada masalah dengan restu orang tua, tapi mungkin semua orang punya cara berpikir dan memandang dengan caranya masing-masing dan celah untuk itu semua akan terus ada.
Untuk gue, yang gue inginkan adalah gue menjadi pilihan yang satu-satunya dan direstui oleh kedua orang tua nya. Karena gue ngga mau kalau orang tuanya yang memutuskan bahwa anaknya langsung mau dipasangkan dengan gue karena gue pun punya pengalaman pribadi saat dulu gue pacaran, pacar gue bilang kalau Ibu nya ngga suka dengan gue karena gue adalah anak bandel atau brandal dan disuruh jangan deket-deket sama anak nya yaitu pacar gue kala itu. Setelah beberapa waktu, gue tau semua itu hanya alasan yang mana intinya itu dia udah ngga mau sama gue lagi, Ibu nya pun sempat bercerita dan sedikit mencurahkan pendapat meminta gue untuk kembali tapi sayangnya semua pilihan itu bukan ada di gue.
Gue ngga mau kalau bukan dari dia yang mengiyakan, karena yang akan hidup dengan gue nanti nya adalah dia.
Episode 3:
Gue ngga mau kalau bukan dari dia yang mengiyakan, karena yang akan hidup dengan gue nanti nya adalah dia.
Episode 3:
Di episode ini ada jawaban dari Prof Quraish Shihab yang masih berhubungan dengan usaha yang dibahas di episode ke 2.
"sabar itu bukan hanya menanti, tapi juga menuntut usaha." Menuturkan sebenarnya apa makna yang terkandung di dalam kata sabar itu.
Lalu selanjutnya Prof Quraish Shihab ada berkata "tidak semua yang kita anggap buruk itu benar-benar buruk.” Yang mungkin temen-temen familiar dengan “Don’t judge the book by it’s cover”
Sebuah dasar buat gue untuk selalu memberikan kesempatan kepada orang-orang yang pantas untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Karena gue pun ada kelemahan hanya bisa melihat dan mendengar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ada dibelakang semua itu.
Ditutup dengan “Pesan dari Abi” yaitu
"kalau dia masih berkekurangan, Allah akan membantu nya menjadi berkecukupan." Yang membuat gue semakin semangat buat introspeksi diri gue jadi orang yang lebih pantas untuk calon istri gue sehingga dapat memenuhi segala keinginan dan kebutuhan nya sebisa dan semampu gue. Karena gue tau gue ngga akan punya waktu yang benar-benar cukup untuk jadi sempurna, semoga Allah membantu mencukupkan semuanya.
Ketiga video itu bener-bener nambah preferensi gue dan menambahkan cara pandang yang baru. Gue juga semakin bisa belajar dan menjadikan Prof Quraish Shihab ini panutan, semoga gue bisa menjadi pribadi yang santun penuh kelebihan, ilmu, juga kerendahan hati, menjadi seorang suami yang menjadi cerminan baik dan pelengkap yang sempurna bagi calon istri gue nanti seperti beliau, menjadi seorang ayah yang dilimpahkan rezeki dengan anak-anak yang shalih shaliha juga santun dan juga pandai seperti Mba Nana, Amin.
0 Komentar