Mungkin gue kurang bersyukur


Gue termenung sendirian di sebuah kursi yang harusnya di isi 3 orang yang kebetulan sepi, gue bisa leluasa buat nyimpen beberapa bawaan gue kaya tas berisikan laptop dan 1 tote bag kecil bawa baju gue untuk seminggu bekerja, setelah selesai dalam pelarian dari pekerjaan selama 2 hari weekend.

Gue termenung melihat ke arah jalan walaupun gelap hanya terlihat terangnya lampu dari rumah-rumah, gedung dan ngeliat banyak cahaya lampu lampu  beragam warna nya bergerak cepat, yaitu dari mobil mobil yang bergerak berlawanan arah dengan mobil bis yang gue naiki dan ditemani video piano instrumental untuk stress relief untuk menenangkan sedikit beban pikiran

Karena gue ngga ngerti kenapa semakin lama gue ngerasa beban yang gue pikul semakin berat.

Ya, yang gue pikirkan disini adalah beban finansial yang semakin terasa ada di bahu gue.

Gue sedikit ngga nyangka, dari gue yang dulu hanya mikirin gimana asiknya mainngame online seharian, hangout sama temen siang malem, laper tinggal ke dapur ambil lauk pauk yang udah nyokap gue masakin, kalau capek tinggal rebahan aja istirahat karena semua nya bisa gue dapatkan dari orang-orang sekitar gue bisa sangat andalkan untuk memastikan hidup gue baik baik aja yang mana salah satu dari mereka adalah kedua orang tua gue.

Hingga gue yang sekarang adalah orang yang paling di andalkan oleh kedua orang tua gue, ngga hanya mereka tapi kakek-nenek, adik dan saudara-saudara gue.

Kalau gue boleh egois, gue ngga mau jadi dewasa. Gue hanya mau bertindak sesuka gue dan kedua orang tua dan saudara-saudara gue selalu ada buat memastikan hidup gue baik baik aja. Kalaupun gue meminta keinginan egois seperti itu pasti mereka akan berusaha menyanggupi nya sejauh mereka kuat untuk berdiri dan juga melangkah demi gue. Tapi ternyata malah gue sendiri yang gak mau keinginan egois gue itu jadi kenyataan sadar bahwa orang tua gue semakin menua dan rapuh, dan muncul sebuah rasa tanggung jawab untuk tidak membiarkan mereka bekerja untuk lebih keras lagi.

Sampailah gue dititik gue harus memikul semua itu, menerima tongkat estafet yang sudah mereka lakukan sedari dulu kepada gue yang akan meneruskan langkah mereka sebagai lokomotif utama. Tidak hanya mereka, gue juga bertanggung jawab untuk adik gue sekarang yang juga makin dewasa, melanjutkan tanggung jawab orang tua dan tanggung jawab sebagai seorang kakak yang juga menopang segala kebutuhan nya mengejar mimpi serta memastikan masa depan nya.

Dengan pekerjaan gue yang sekarang dan seluruh pendapatan yang gue dapatkan diluar pekerjaan gue yang kalo ditotalin buat gue seorang diri ya lebih dari cukup, sangat cukup, bisa dikatakan nominal yang tinggi untuk orang-orang seumuran gue. ngga ada sedikitpun dibenak gue untuk merasa tinggi dibanding orang lain karena nominal tersebut, karena parameter gue itu yang penting keperluan gue dan keluarga tercukupi.

Bukan sesuatu yang bisa disombongkan juga, karena gue pun merasa itu kurang. Serius, pada awalnya ketika semua baik-baik aja, gue bisa menikmati gaji dan hasil jualan gue secara penuh. Uang nya bisa gue jalan kesana-kesini, beli gitar, parfum mahal, makan mahal dan enak setiap hari. Tapi ngga untuk menanggung 4 jiwa lain nya.

Dulu gue membayangkan dengan gaji sekian, gue bisa beli dan ngelakuin apa yang gue mau. 

Bersyukurnya gue dikasih kesempatan untuk menggapai itu dan menikmati apa yang gue impikan itu sejenak sampai akhirnya sadar dan mengerti bahwa sebenernya itu ngga terlalu banyak ketika menanggung 4 jiwa dan juga untuk gue sendiri.

Uang masak untuk setiap hari mereka makan, uang dapur memastikan bahwa gas untuk masak itu ada, token listrik rumah selalu terisi untuk mereka nonton tv dan menyejukkan diri di ruangan berac sambil, biaya transportasi yang digunakan untuk mereka berpergian, tagihan internet yang mereka gunakan untuk menghabiskan waktu luang dengan menonton youtube, uang bulanan sampah untuk memastikan semua sampah di halaman rumah dibersihkan, uang kuliah adik, uang merantau adik selama kuliah, uang darurat ketika mereka semua sedang sakit dan juga keperluan lain tentu nya.
Itu semua diluar untuk keperluan pribadi gue, keinginan gue untuk beli sepeda dan piano, nabung dan investasi.

Seakan ego gue berteriak “kalau gini, gimana bisa nabung dan kekumpul banyak? Kapan waktu nya gue seneng-seneng untuk bisa beli apa yang gue mau lagi?”

dan seakan otak gue pun bantu gue untuk jawab pertanyaan itu, “apakah keinginan kamu itu lebih penting daripada mereka yang membuat lo sampe jadi seperti sekarang? dimana tanggung jawab lo sebagai laki-laki? Apa lo ngga punya rasa terimakasih?”

“tapi kalau gini terus ya pusing banget”

“tapi”

“tapi”

semua perdebatan internal yang overthinking itu terus melintang dikepala gue, sebuah ego vs tanggung jawab sambil menatap kosong kearah jalan tol.

Jam setengah 11 malam, bis yang gue tumpangi pun keluar di Balaraja untuk mengambil penumpang yang hendak ke garut. Selagi menunggu para penumpang, mamang asongan dengan segala jualan nya pun masuk ke dalam bis untuk dijajakan kepada para penumpang.

Ada mamang cangcimen yang menawarkan cemilan, mamang tahu, mamang jualan mainan anak dan mamang lain nya yang silih berganti menawarkan dagangan mereka dengan jurus marketing dan promo nya sendiri-sendiri.

Seketika gue ngerasa jadi orang bener-bener ngga tau diri dengan segala pikiran yang tadi gue pikirin, ngeliat mereka yang hampir tengah malam masih aja gigih untuk mencari nafkah yang pasti mereka lakuin semua itu buat keluarga mereka dirumah. Mereka melakukan hal itu dengan tanggung jawab yang sama dengan yang gue pikul, tapi dengan jalan mereka yang lebih berat dari pada gue.

Betapa gue merasa ngga tau diri ketika ngeliat mereka berjualan, gue masih bisa mencukupi segala kebutuhan keluarga gue, masih bisa beristirahat yang cukup, masih diberikan ruangan yang nyaman dan adem dalam bekerja, masih bisa nabung dan investasi dan kemudahan lain yang ada pada gue dibandingkan mereka yang berjualan hingga malam, harus berpindah dari satu bis ke bis lain, dari siang hingga malam untuk mencukupi kebutuhan dari keluarga mereka tanpa ada nya investasi apalagi kepengen beli piano.

Gue ngerasa mungkin apa yang gue pikul ini belom seberat apa yang mereka pikul, dan mungkin hidup yang gue jalani sekarang adalah sebuah hidup yang di idamkan bagi orang lain. mungkin gue terlalu tidak sabar untuk menggapai sesuatu dan gue hanya berfokus kepada sesuatu yang belum gue miliki ngga ngeliat apa yang gue gapai sekarang.

Ssebuah self note dan pembelajaran yang gue dapatkan hari ini adalah mungkin gue kurang bersyukur.



0 Komentar

Mohon Aktifkan Javascript!Enable JavaScript