Piece of story




Pertama kali kau datang, rasanya seperti terlahir kembali yang tak mengenal rasa sakit apapun. Matahari mulai tenggelam pada sudut pilar barat, mata hati mulai hanyut pada kerinduan yang berat. Janji-janji kita kubaca dengan senyum yang terkubur dan Kupahami dengan hati yang hancur serta aku tak sanggup untuk mengakhiri.

Aku tertawa tanpa makna pada lembaran-lembaran waktu yang mulai suram, renta tanpa asa. Kamu telah merobek segalanya sementara aku masih mencoba menyatukan serpihan-serpihan cerita kita, meskipun kutahu akhir ceritanya.

Dulu ketika aku menetapkan hati ini untuk mu, tidak pernah sedikitpun terlintas akan resikonya. cinta hadir dengan baik dan ketika ia berubah menjadi tak baik aku pun tak akan merasa sedikitpun baik ketika masih tetap menggenggam nya. Bukan karena aku menyerah karena aku tau cinta itu yang menusuk tanganku yang selalu menggenggamnya. Cinta yang pernah membuatku merasa seperti yang terlahirkan kembali lah yang meleburkanku kembali ke dasar, seperti lagu cinta nan bahagia yang mengundang tangis tuk hadir.

Dia pernah datang dan kini dia pergi membawa hidupnya hatiku, meninggalkan hatiku yang layu. Mungkin membutuhkan waktu yang tak tentu sampai akhir nya sang maha cinta yang menitipkan kembali kehidupan untuk menghidupkan rasa yang dulu ataupun rasa yang baru. Kamu tau aku tidak suka untuk punya dendam, yang pastinya semua salahmu sudah termaafkan. Tapi mungkin aku belum atau mungkin tidak mau kembali, bukan karena aku tidak percaya dengan maaf mu, bukan karena aku merasa cerita ini tidak punya harapan baru, hanya saja aku tidak bisa melanjutkan cerita ini karena aku tau bahwa sejak awal hatimu tidak pada cerita ini.

Jadi untuk apa aku beristirahat kalau cerita ini sudah kau selesaikan. sudah berakhir dijalan buntu yang memaksa kita berhenti dan pulang. Tapi kali ini aku tidak mau mengajakmu pulang seperti biasanya, karena kamu pergi dan tidak lagi dalam cerita yang mengiringi raga ku kembali pulang. Aku pun tidak meminta hatiku kamu kembalikan, biarlah itu tetap menjadi milikmu.

Kaki ku memang sedang melangkah pulang diantara hujan deras yang menghujam untuk sampai ke rumah semula tapi hatiku lah yang kehilangan arah karena ia kehilangan tujuan ke rumah yang selama ini ia kira tempat yang hanya untuk nya namun sekarang mengusir nya. Mungkin kamu tidak akan pernah tau bahkan memikirkan seperti apa rasanya, hidup dalam rumah itu melalui banyak hal indah serta duka lalu sekarang disuruh pergi? untuk cari tempat baru? mungkin kamu juga tidak akan memikirkan bagaimana bisa seseorang yang kamu jaga hatinya, lebih dari menjaga hatinya sendiri kini justru mengusirmu mentah mentah.

Dan kaki ku berhenti tepat di depan rumah dengan hujan yang semakin deras, dirumah mu bagaimana? cerah bukan? Karena kamu memang tidak akan merasakan bagaimana rasanya kehujanan sendirian.

Jadi maafkan aku yang dari awal selalu mengharapkan kamu disini, maafkan aku yang pernah kamu kuatkan dan beri rasa. maafkan aku yang pernah menuliskan tulisan tulisan ku buat yang hanya untuk mu, walau akan berujung fana untukmu.



Note in 2 Ramadhans ago ’16, in the Middle of Ramadhan 1437 H.

0 Komentar

Mohon Aktifkan Javascript!Enable JavaScript