Untitled
Ada hal yang tidak baik, namun menjadi wajar untuk cinta di umur 20an. Berdasarkan cerita beberapa kawan dan wejangan dari ibu, saya jadi sadar beberapa hal.
Bukan hal yang menyenangkan, ketika mengetahui pasangan kita berpaling dengan/tanpa sebab. Marah, kesal, dan kecewa adalah reaksi pertama dan utama yang akan terjadi. Namun, seberapa jauhkah kita bisa bereaksi? Mengumpat dan menghancurkan pilihannya atau berpaling dan mencari pilihan yang lebih baik sambil tersenyum? Saya rasa, saya akan merekomendasikan pilihan kedua, walaupun mendengarnya saja sudah sulit.
Di umur ini, kita tidak bisa membatasi dan "mengkerangkeng" pasangan kita untuk seperti ini dan itu. Menjadi penyemangat dan pengamat saja sudah lebih dari cukup. Kita harus membebaskan dirinya mengeksplor apapun untuk merancang masa depannya. Terlebih jika bisa dirancang bersama, bangunlah impian itu dengan baik.
Lalu bagaimana ketika sudah sejauh itu, pasangan kita malah berpaling? Kita tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Lalu siapa yang pantas disalahkan? Tidak ada, semua ini masalah pilihan. Saya yakin, sangat berat ketika seseorang berada pada dua pilihan; bertahan atau meninggalkan. Ketika dia memilih bertahan, artinya ada sesuatu yang bisa diperbaiki dan menunjang masa depan keduanya. Namun, ketika dia memilih meninggalkan, dia tidak menemukan hal yang dia butuhkan di masa depan pada diri kita.
Memang terdengar tidak adil. Tapi, hal itu adalah polemik yang saya lihat belakangan. Baik pada diri saya maupun orang-orang sekitar saya. Kita harus berani mengambil keputusan pahit, walau itu akan menyakiti hati seseorang demi sesuatu yang lebih baik di masa depan.
Kita sedang ada di tahap pencarian, jika tidak sesuai, pergi dan tinggalkan. Banyak orang datang dan dengan/tanpa permisi lalu pergi. Tidak usah kecewa atau sedih berlarut-larut, tandanya kita memang sedang sama-sama mencari. Tidak usah pula berharap banyak, seperti kata pesan favorit saya:
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan pada kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya” – Imam Syafi’i
Cukup percaya, Allah akan menggantikan sesuatu yang Dia ambil dengan yang lebih baik di kemudian hari.

0 Komentar